Selasa, 27 Maret 2012

MUHIDDIN [1111040192] - TUGAS IV

Kenaikan BBM


Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Kacung Marijan, dalam sebuah seminar nasional menyatakan bahwa Indonesia adalah negara peringkat pertama jumlah demonstrasi terbanyak yang dilakukan oleh mahasiswa dari 113 negara di dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Mengapa tidak, di zaman teknologi sekarang ini, terdapat berbagai sumber terpercaya yang dapat kita jadikan sebagai acuan untuk membuktikan kebenaran akan hal tersebut.
Bagi mahasiswa tertentu, demonstrasi merupakan bentuk perlawanan dan perjuangan sebagai wujud kepedulian mereka terhadap problematika sosial yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Sejarah bangsa pun tak memungkuri bahwa mahasiswa kerap menjadi lokomotif perubahan dalam mengawal setiap kebijakan-kebijakan pemerintah. Mahasiswa selalu dipuja-puja sebagai pejuang yang membela kepentingan rakyat dengan melakukan aksi demonstrasi. Akan tetapi realitasnya, kini substansi aksi demonstrasi mahasiswa seolah mengalami degradasi secara universal.
Menanggapi kebijakan pemerintah mengenai penaikan BBM tertanggal 1 April 2012, riak-riak mahasiswa dalam melakukan perlawanan sudah mulai bergelora. Aksi demonstrasi pun menjadi suguhan yang tidak asing bagi pengguna jalan sehingga tidak jarang mahasiswa bukannya dipuji, malah dihujat akibat demonstrasinya yang meresahkan. Tidak sedikit rakyat menghujat aksi demonstrasi mahasiswa yang seolah tidak lagi membawa kepentingan rakyat dalam setiap gerakannya. Buktinya aksi demonstrasi selalu saja merugikan rakyat dengan kemacetan, perusakan fasilitas umum bahkan bersitegang dengan aparat jika tuntutannya tidak mendapatkan tanggapan.
BERITAKOTA ONLINE menyebutkan jalanan macet akibat demo penolakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Makassar terjadi di sejumlah titik di Kota Makassar, di antaranya di flyover, di depan kampus Universitas 45, UNM, UMI, UIT, UIN, dan Unismuh. Kemacetan di sejumlah ruas jalan pun terjadi. Sedikitnya ada lima poros jalan utama yang sempat terganggu oleh aksi demo, yaitu Jalan Sultan Alauddin, AP Pettarani, Rappocini, Urip Sumohardjo, dan Perintis Kemerdekaan. Aksi demo digelar di sejumlah tempat. Aksi ini membuat arus lalulintas di Jalan AP Pettarani terganggu. Sebagian pengendara baik dari arah Utara maupun Selatan terpaksa dialihkan ke jalan alternatif lainnya. Mereka beranggapan bahwa kenaikan harga BBM akan sangat mencekik rakyat. Sementara di depan Universitas Negeri Makassar (UNM) Jalan AP Pettarani, mahasiswa juga melakukan aksi menutup jalan. Aksi ini mengakibatkan ruas jalan di AP Pettarani lengang. Aksi demo juga dilakukan mahasiswa di depan Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin.
Sebagai implikasi dari aksi mahasiswa tersebut Sejumlah hotel di Makassar diprediksi akan mengalami kerugian jika demo penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus belanjut. Hotel Grand Clarion Makassar salah satunya sudah merasakan dampak dari aksi demo mahasiswa Makassar. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel sekaligus General Manager (GM) Grand Clarion Hotel Makassar Anggiat Sinaga, mengungkapkan sejak aksi demo penolakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) berlangsung pihaknya kehilangan pemasukan sekitar Rp325 juta. Itu karena ada grup instansi pemerintah dari Jakarta yang membatalkan meeting di Grand Clarion Makassar. GM Makassar Golden Hotel (MGH) Rizky Dermawan juga mengaku mendapat pengaruh negatif dari aksi demo BBM yang belakangan ini marak di Makassar.  Ada beberapa tamu individual yang sudah memesan kamar, namun kembali membatalkan. Hotel ini kehilangan pendapatan sekira Rp80 juta.
Hal ini sangat tidak bersesuaian dengan wacana sebelumnya yang mengatakan bahwa aksi mereka tidak lain adalah untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.
Ratusan sopir mobil mengeluh akibat aksi mahasiswa tersebut. Mereka yang sebelumnya dapat menempuh jalan dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah terpaksa harus berputar ke berbagai tempat lalu akhirnya bisa sampai ke tempat tujuan. Hal ini tentu sangat mempengaruhi tingkat pendapatan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar