Kenaikan BBM
Guru
Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Dr. Kacung Marijan,
dalam sebuah seminar nasional menyatakan bahwa Indonesia adalah negara
peringkat pertama jumlah demonstrasi terbanyak yang dilakukan oleh mahasiswa
dari 113 negara di dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Mengapa tidak, di
zaman teknologi sekarang ini, terdapat berbagai sumber terpercaya yang dapat
kita jadikan sebagai acuan untuk membuktikan kebenaran akan hal tersebut.
Bagi
mahasiswa tertentu, demonstrasi merupakan bentuk perlawanan dan perjuangan
sebagai wujud kepedulian mereka terhadap problematika sosial yang tidak
berpihak kepada kepentingan rakyat. Sejarah bangsa pun tak memungkuri bahwa
mahasiswa kerap menjadi lokomotif perubahan dalam mengawal setiap
kebijakan-kebijakan pemerintah. Mahasiswa selalu dipuja-puja sebagai pejuang
yang membela kepentingan rakyat dengan melakukan aksi demonstrasi. Akan tetapi
realitasnya, kini substansi aksi demonstrasi mahasiswa seolah mengalami
degradasi secara universal.
Menanggapi
kebijakan pemerintah mengenai penaikan BBM tertanggal 1 April 2012, riak-riak
mahasiswa dalam melakukan perlawanan sudah mulai bergelora. Aksi demonstrasi
pun menjadi suguhan yang tidak asing bagi pengguna jalan sehingga tidak jarang
mahasiswa bukannya dipuji, malah dihujat akibat demonstrasinya yang meresahkan.
Tidak sedikit rakyat menghujat aksi demonstrasi mahasiswa yang seolah tidak
lagi membawa kepentingan rakyat dalam setiap gerakannya. Buktinya aksi
demonstrasi selalu saja merugikan rakyat dengan kemacetan, perusakan fasilitas
umum bahkan bersitegang dengan aparat jika tuntutannya tidak mendapatkan tanggapan.
BERITAKOTA
ONLINE menyebutkan jalanan macet akibat demo penolakan kenaikan bahan bakar
minyak (BBM) di Kota Makassar terjadi di sejumlah titik di Kota Makassar, di
antaranya di flyover, di depan kampus Universitas 45, UNM, UMI, UIT, UIN, dan
Unismuh. Kemacetan di sejumlah ruas jalan pun terjadi. Sedikitnya ada lima
poros jalan utama yang sempat terganggu oleh aksi demo, yaitu Jalan Sultan
Alauddin, AP Pettarani, Rappocini, Urip Sumohardjo, dan Perintis Kemerdekaan. Aksi
demo digelar di sejumlah tempat. Aksi ini membuat arus lalulintas di Jalan AP
Pettarani terganggu. Sebagian pengendara baik dari arah Utara maupun Selatan
terpaksa dialihkan ke jalan alternatif lainnya. Mereka beranggapan bahwa kenaikan
harga BBM akan sangat mencekik rakyat. Sementara di depan Universitas Negeri
Makassar (UNM) Jalan AP Pettarani, mahasiswa juga melakukan aksi menutup jalan.
Aksi ini mengakibatkan ruas jalan di AP Pettarani lengang. Aksi demo juga
dilakukan mahasiswa di depan Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin.
Sebagai
implikasi dari aksi mahasiswa tersebut Sejumlah hotel
di Makassar diprediksi akan mengalami kerugian jika demo penolakan kenaikan
harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus belanjut. Hotel Grand Clarion Makassar
salah satunya sudah merasakan dampak dari aksi demo mahasiswa Makassar. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel
sekaligus General Manager (GM) Grand Clarion Hotel Makassar Anggiat Sinaga,
mengungkapkan sejak aksi demo penolakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM)
berlangsung pihaknya kehilangan pemasukan sekitar Rp325 juta. Itu karena ada
grup instansi pemerintah dari Jakarta yang membatalkan meeting di Grand Clarion
Makassar. GM Makassar Golden Hotel (MGH) Rizky Dermawan juga mengaku mendapat
pengaruh negatif dari aksi demo BBM yang belakangan ini marak di
Makassar. Ada beberapa tamu individual yang sudah memesan kamar, namun
kembali membatalkan. Hotel ini kehilangan pendapatan sekira Rp80 juta.
Hal ini sangat tidak bersesuaian
dengan wacana sebelumnya yang mengatakan bahwa aksi mereka tidak lain adalah
untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.
Ratusan sopir mobil mengeluh akibat
aksi mahasiswa tersebut. Mereka yang sebelumnya dapat menempuh jalan dari satu
tempat ke tempat lain dengan mudah terpaksa harus berputar ke berbagai tempat
lalu akhirnya bisa sampai ke tempat tujuan. Hal ini tentu sangat mempengaruhi
tingkat pendapatan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar