Tampilkan postingan dengan label Muh. Prayogi Al-Syah - 1111040182. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muh. Prayogi Al-Syah - 1111040182. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2012

Muh. Prayogi Al-Syah - Tugas IV

Langkah Kritis dan Kelangkaan BBM


Dalam tugas ini, saya akan membahas pembatasan atau kenaikan BBM. Banyak masayarakat yang khawatir atas kenaikan harga BBM. Mungkin masalah ini belum tuntas karena belum ada kebijakan dari pemerintah dan banyak masyarakat yang menunggu keputusan pemerintah. Tentunya banyak di antaranya masyarakat kecil yang merasa resah dengan kebijakan pemerintah. Karena ia merasa dirugikan.

Pembatasan BBM bersubsidi akan memicu penyusutan konsumsi normal dan menyebabkan kelangkaan. Bisa saja kelangkaan BBM tersebut tidak terjadi, tetapi harganya di naikkan dan mungkin bagi masyarakat yang mampu itu masih dapat terjangkau harganya. Namun tidak dengan masyarakat kecil. Untuk makan saja terkadang belum mencukupi, apalagi jika BBM dinaikkan.

Ada pilihan yang menjadi kebijkan pemerintah, karena di picu dengan harga minyak dunia terus meningkat, sementara ketergantungan dengan minyak import tidak bisa di bendung.

Menanggapi pemabatasan atau kenaikan BBM tersebut, Badan Pekerja Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP) mengatakan, seharusnya pemerintah jangan tergantung dengan rencana kebijakan yang tidak populis itu. Dan juga seharusnya mendorong penggunaan energi alternatif sehingga tidak tergantung pada BBM jenis itu.

Banyak anak bangsa yang bisa menciptakan sumber energi, seperti energi panas matahari atau panas bumi. Dan tinggal bagaimana dapat kebijakan dari pemerintah untuk serius mendukung penerapan energi alternatif secara harga yang terjangkau. Menyikapi malah tersebut, pemerintah harus bersikap bijak dan mencari solisu lain.

Jika kenaikan BBM akan jadi dilakukan oleh pemerintah maka akan mengakibatkan dampak buruk seperti kenaikan sembako. Negara ini masih banyak masyarakat kecil. Seharusnya pemerintah dapat menganalisa keadaan ekonomi masnyarakat di negara ini. Contohnya saja beras, itu adalah salah satu kebutuhan pokok masyarakat negara ini. Beras dan BBM adalah menjadi pusat pertahanan ekonomi dalam negara ini.

Pilihan yang terkait dengan BBM bersubsidi yang kini digulirkan pemerintah, di khawatirkan menjadi kebijkan politis. Pemerintah sebelum membuat kebijakan harus mempertimbangkan berbagai aspek, bukan karena desakan politis dan lebih utama mempertimbangkan kepentingan masyarakat menengah kebawah.

Muh. Prayogi Al-Syah
1111040182

Senin, 19 Maret 2012

Muh. Prayogi Al-Syah - Tugas III

Biogas


Beberapa tahun terakhir ini energi merupakan persoalan yang krusial didunia. Peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi dan menggunakan energi terbaharukan. Selain itu, peningkatan harga minyak dunia hingga mencapai 100 U$ per barel juga menjadi alasan yang serius yang menimpa banyak negara di dunia terutama Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia akan memberikan dampak yang besar bagi pembangunan bangsa Indonesia. Konsumsi BBM yang mencapai 1,3 juta/barel tidak seimbang dengan produksinya yang nilainya sekitar 1 juta/barel sehingga terdapat defisit yang harus dipenuhi melalui impor. Menurut data ESDM (2006) cadangan minyak Indonesia hanya tersisa sekitar 9 milliar barel. Apabila terus dikonsumsi tanpa ditemukannya cadangan minyak baru, diperkirakan cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade mendatang.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak pemerintah telah menerbitkan Peraturan presiden republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak.

Salah satu sumber energi alternatif adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion. Proses ini merupakan peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif sehingga akanmengurangi dampak penggunaan bahan bakar fosil.

Harga bahan bakar minyak yang makin meningkat dan ketersediaannya yang makin menipis serta permasalahan emisi gas rumah kaca merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat global. Upaya pencarian akan bahan bakar yang lebih ramah terhadap lingkungan dan dapat diperbaharui merupakan solusi dari permasalahan energi tersebut. Untuk itu indonesia yang memiliki potensi luas wilayah yang begitu besar, diharapkan untuk segera mengaplikasi bahan bakar nabati. Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses anaerobik digestion dan memiliki prosepek sebagai energi pengganti bahan bakar fosil yang keberadaaanya makin langka.

__________________________________________________________________________________
Referensi:
Simamora, Suhut dkk. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak & Gas dari Kotoran Ternak. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Muh. Prayogi Al-Syah.
1111040182.

Senin, 12 Maret 2012

Muh. Prayogi Al-Syah - Tugas II

TUGAS II

1.      Apa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia ragam ilmiah?
         Bahasa Indonesia ragam ilmiah merupakan salah satu bahasa Indonesia yang digunakan  dalam menulis karya ilmiah. Ragam ilmiah juga disebut ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Menurut Dendy Sugono (1999:9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
2.   Jelaskan kriteria bahasa Indonesia ragam ilmiah berikut ini serta contohnya!
a.       Cendekia
               Bahasa tulis ilmiah bersifat cendekia. Artinya, bahasa ilmiah itu mampu digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis. Bahasa yang cendekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Karena itu, apabila sebuah kalimat digunakan untuk mengungkapkan dua buah gagasan yang memiliki hubungan kausalitas, dua gagasan beserta hubungannya itu harus tampak secara jelas dalam kalimat yang mewadahinya.
Contoh: Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengayuh budaya barat yang masuk ke negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan  nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.
b.      Lugas dan jelas
                       Lugas dan jelas disini dimaksudkan bahwa hanya menyampaikan gagasan yang pokok-pokok saja, tidak berbelit-belit dan jelas. Contoh: Para pendidik  yang kadang-kadang atau bahkan sering  terkena  akibat ulah sebagian anak-anak mempunyai  tugas yang berat.
c.       Menghindari kalimat fragmentaris
               Fragmentaris berarti bersifat bagian-bagian atau tidak utuh. Jadi yang dimaksud dengan menghindari kalimat fragmentaris berarti menghindari kalimat yang setengah-setengah atau yang tidak selesai. Contoh: Demikian surat ini kami buat, agar digunakan seperlunya.
d.      Bertolak dari gagasan
         Penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan bukan pada penulis atau pelaku. Contoh: Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.
e.       Formal dan objektif
                                   Tingkat keformalan bahasa dalam artikel ilmiah dapat dilihat pada lapiskosakata, bentukan kata, dan kalimat. Kosakata yang digunakan cenderungmenggarah pada kosakata ilmiah teknis, yang jarang dipahami oleh masyarakat umum. Perlu kecermataan dalam memilih kosakata untuk artikel ilmiah. Terwujudnya sifat objektif tidak cukup dengan  hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Sifat objektif juga diwujudkan dalam panggunaan kata. Contoh : Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas empat kategori, yakni fabel, logende, mite, dan sage. 
f.       Ringkas dan padat
               Selain ringkas dalam bahasa tulis ilmiah direalisasikan dengan  tidak adanya unsur-unsur bahasa yang tidak diperlukan (mubazir). Itu berarti menuntut kehematan dalam panggunaan bahasa ilmiah. Contoh: Jakarta adalah ibukota negara Indonesia.
g.      Konsisten
                       Unsur bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sekali sebuah unsur bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan sesuai dengan  kaidah, itu semua selanjutnya digunakan secara konsisten. Contoh: Penelitian ini sederhana, tetapi sangat rumit pengambilan datanya.
3.      Jelaskan perbedaan ragam resmi dan ragam tidak resmi!
            Ragam bahasa resmi adalah ragam bahasa yang biasa digunakan dalam suasana resmi atau formal, misalnya surat dinas, pidato dan makalah atau karya tulis.Ragam bahasa tidak resmi adalah ragam bahasa yang biasa digunakan dalam suasana tidak resmi, misalnya surat pribadi dan surat untuk keluarga atau yang berbentuk lisan, contohnya dalam percakapan sehari-hari.

Referensi:
http://daudp65.byethost4.com/mki/mki1.html
http://fadilarafat.wordpress.com/2011/12/04/ragam-bahasa-resmi-ragam-bahasa-tidak-resmi/

Muh. Prayogi Al-Syah
1111040182

Kamis, 08 Maret 2012

Muh. Prayogi Al-Syah - Tugas I

Cinta...?

Betul, cinta... Ini bukan artikel nyasar atau hanya sekedar hasil copy-paste tidak jelas. Judul di atas lengkapnya, "Cinta Bahasa Indonesia?"

Dalam tulisan singkat ini penulis hanya ingin memberikan opini pribadi.

Begini, betapa banyak artikel-artikel yang bertebaran di internet mengenai 'cinta bahasa Indonesia' membahas betapa pentingnya berbahasa indonesia secara 'penuh'. Yang saya maksudkan di sini, artikel artikel tersebut mengklaim bahwa bangsa indonesia kini, utamanya pemuda kurang mencintai bahasa indonesia. . .saya kurang setuju (ya, kurang bukan sepenuhnya) namun alasannya saya berikan belakangan.

Lihat saja blog ini, tugas pertama menulis artikel dengan tema 'Cinta Bahasa Indonesia' atau 'Sejarah Bahasa Indonesia'. Seratus persen teman-teman penulis yang mengangkat tema 'Cinta Bahasa Indonesia' mengambil sisi yang menuduh kurangnya kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Saya skeptis...

Kita memang harus punya kecintaan terhadap bahasa kita sendiri, ya itu harus.... Namun kita juga tidak boleh menutup diri dalam era globalisasi sekarang. Dalam artikel yang (maaf, mungkin) ditulis oleh Nadzra, (dapat di cek di sini) ada paragraf ini:

Di Indonesia fenomena rendahnya kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia, terutama di kalangan cendekiawan. Dalam pidato para pejabat, termasuk Presiden SBY, sering kali terjadi dan lebih bangga dengan bahasa asing yang membuatnya terlihat hebat. Kita juga gemar mengambil alih kata bahasa Inggris dan menjadikannya kata dalam bahasa Indonesia. Mungkin karena malas atau karena gemar (fasih berbahasa Inggris). Padahal, ada kata padanan untuk kata-kata yang diserap itu.

Ayolah jangan naif, bukankah bahasa inggris memang bahasa internasional? Menggunakan bahasa inggris sebagai selipan dalam berbicara bukan berarti 'menghianati' bahasa indonesia. Sekali lagi, sekarang kita di era globalisasi, sadar? Kita butuh bahasa internasional. Itu adalah bagian dari pembiasaan untuk penguasaan. Faktanya, literatur-literatur yang berkualitas memang tersedia dalam bahasa inggris, ya beberapa sudah di translasikan, tepat sekali, hanya beberapa...

Lihat saja kelas kita ini, International Class Programme... Menurut anda tujuannya apa?
Jadi, berhentilah 'bertopeng' nasionalis dengan 'bedak' bahasa secara ekstrim.

Baiklah, "bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu." Iya memang betul, saya juga setuju, sangat setuju... Jadi apa? Bukankah itu sudah jelas?
Bukankah itu tidak memberikan larangan untuk mempelajari dan sekali-kali berbahasa asing?
Ada argumen?
Kita tetap menggunakan bahasa Indonesia tiap hari bukan?

Itu penjelasan singkat saya, mungkin kemudian para pembaca akan bertanya...
"Jadi menurut Muhammad Prayogi Al-Syah, cinta bahasa Indonesia itu manifestasinya bagaimana?"
Gunakan setiap hari, pelajari dengan baik...
Tapi sekali lagi, kita tetap butuh bahasa Internasional, setuju?

Referensi:-

Muh. Prayogi Al-Syah