Selasa, 17 April 2012

PAPER MENULIS LAPORAN


MENULIS LAPORAN
Kegiatan penulisan laporan, baik secara lisan maupun tertulis, erat sekali hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat, dalam perkuliahan, dunia organisasi, dan lingkungan yang lain. Kegiatan ini bukan hanya merupakan kepentingan kaum dewasa melainkan juga merupakan kepentingan kaum remaja, pelajar, dan mahasiswa. Oleh karena itu, mereka perlu memahami dan menguasai cara menyusun laporan agar mampu menjalankan fungsi sosial dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat.
Berdasarkan pemikiran tersebut, berikut ini diuraikan pengertian dan jenis laporan, sistematika laporan, menulis laporan, menyunting laporan, dan merevisi laporan. Oleh karena pembahasan tentang laporan relatif luas, uraian berikut ini difokuskan pada jenis laporan tertulis yang erat kaitannya dengan kehidupan akademik di kampus agar memberikan kontribusi bagi mahasiswa dalam menunjang kelancaran studinya.
1.    Pengertian dan Jenis Laporan
Laporan berarti segala sesuatu yang dilaporkan oleh pihak tertentu kepada pihak lain mengenai suatu masalah, baik secara lisan dan tertulis, dan baik dalam waktu tertentu secara rutin maupun dalam waktu tertentu saja. Pengertian ini menunjukkan unsur keilmiahan dalam penyusunan laporan.
Di samping itu, pengertian di atas telah memperlihatkan cakupan jenis laporan yang demikian luas. Jenis laporan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Pertama, dilihat dari segi isi atau materi yang dilaporkan, misalnya laporan penelitian, laporan keuangan dan laporan penghasilan. Kedua, dilihat dari waktu pelaporannya yang priodik, misalnya jenis laporan tahunan, triwulan, laporan semester, laporan bulanan, dan laporan mingguan. Ketiga, dilihat dari cara menyampaikan laporan, laporan dibagi menjadi dua jenis, yaitu laporan lisan dan laporan tertulis. Keempat, dilihat dari bentuk pelaksanaan suatu kegiatan, kita mengenal jenis laporan kegiatan tertentu seperti laporan kegiatan tertentu seperti laporan kegiatan peringatan reuni, laporan peringatan hari kemerdakaan RI, dan laporan kegiatan wisuda. Kelima, dalam kehidupan akademik diperguruan tinggi terdapat jenis-jenis laporan yang berkaitan dengan tugas perkuliahan, seperti laporan buku, laporan bab, laporan kuliah lapangan, dan laporan artikel jurnal.
Di samping jenis-jenis di atas, terdapat pula jenis laporan yang dikenal pada lingkungan organisasi atau institusi lain.
Jenis-jenis laporan di atas dapat didefenisikan dengan mengacu pada pengertian umum yang disajikan di atas dan dengan mempertimbangkan isi, waktu, cara, dan bentuk laporan seperti lingkungannya.
Agar pihak penerima laporan dapat memahami isi laporan dengan mudah, cepat, dan benar, laporan hendaknya disusun berdasarkan sistematika tertentu seperti disajikan berikut ini.
2.    Sistematika Laporan
Variasi laporan yang dikemukakan di atas berimplikasi terhadap sistmatika penulisan. Sekaitan dengan sistematika laporan kegiatan, khususnya laporan pengabdian kepada masyarakat, Abdurrahman (1986: 176) mengemukakan bahwa laporan itu terdiri atas judul laporan, penyusunan laporan, kata pengantar, ringkasan, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan ilustrasi, pendahuluan, pelaksanaan kegiatan, hasil kegiatan, kesimpulan dan saran, daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.
Laporan buku, bab, dan artikel terdiri atas komponen (a) pendahuluan, (b) isi buku, bab, asrtikel, (c) komentar, dan (d) kesimpulan (UPI, 2005: 11).
Adapun laporan penelitian dalam bentuk skripsi, tesis, dan disertasi terdiri atas kompunen judul, nama dan kedudukan tim pembimbing (lembar pengesahan), pernyataan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, bab I pendahuluan, bab II kajian pustaka, bab III metode penilitian, bab IV pembahasan hasil-hasil penelitian, bab V kesimpulan dan rekomendasi, daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan riwayat hidup penulis (UPI, 2005: 140).
Perbedaan sistematika terjadi karena keragaman isi, waktu, bentuk, dan lingkungan laporan. Varian sistematika di atas tidak akan diuraikan di sini karena akan menyita halaman halaman yang banyak. Oleh karena itu, uraian sistematika difokuskan pada bentuk laporan yang umum agar para mahasiswa dapat memanfaatkan secara luas untuk berbagi kepentingan.
Secara umum, laporan terdiri atas beberapa komponen sebagai berikut.
a.    Identitas laporan. Bagian ini memuat judul, penyusun, dan kata pengantar.
b.    Ringkasan. Nama lain dari bagian ini adalah abstrak atau ringkasan eksekutif, yang memuat identitas kegiatan, waktu, masalah, metode, hasil, dan rekomendasi.
c.    Daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar ilustrasi. Tiga komponen  yang terakhir disebutkan hanya disajikan apabila laporan itu memuat tabel, gambar, dan ilustrasi.
d.   Pendahuluan. Bagian ini memuat aspek-aspek yang diusulkan dalam proposal kegiatan.
e.    Landasan teoritis atau uraian tentang suatu kebijakan. Jika laporan itu merupakan laporan ilmiah, bagian ini disebut landasan teoritis. Apabila laporan itu berupa kegiatan, bagian ini memuat uraian tentang suatu kebijakan.
f.     Metode atau pelaksanaan kegiatan. Bagian ini menguraikan mekanisme dan prosedur penelitian atau kegiatan itu dilaksanakan.
g.    Hasil kegiatan
h.    Kasimpulan dan saran, atau rekomendasi, atau tindak lanjut.
i.      Daftar pustaka.
j.      Lampiran-lampiran.
Pada umumnya suatu institusi atau proyek memiliki sistematika laporan yang harus diikuti oleh unit-unit atau khlayak yang ada di bawah institusi tersebut. Dalam konteks ini, sistematika itulah yang perlu diikuti oleh penyusun laporan.

Izzuddin Al-Jundi
1111040193
ICP Math B

Jumat, 13 April 2012

MUSDALIFAH AK-1111040199 (BAHAN PRESENTASI)





MENYIAPKAN  BAHAN  PRESENTASI  ILMIAH
DENGAN MULTIMEDIA

            Dalam era teknologi informasi ini, prensentasi ilmiah dengan multimedia sudah merupakan kebutuhan karena beberapa alasan yaitu:
1.      Presentasi akan menjadi menarik karena penyaji dapat membuat maneuver dalam memvariasi teknik penyajian bahan, termasuk melalui animasi.
2.      Penyaji dapat menghemat waktu karena dapat mengoreksi bahan sewaktu-waktu diperlukan.
3.      Penyaji dapat memberikan penekanan pada butir yang dikehendaki secara menarik.
4.      Peserta dapat langsung mengopi file presentasi jika diperlukan.
5.      Penyaji sangat dimudahkan dengan membawa bahan dalam flashdisk.
6.      Bahan presentasi dapat sangat ringkas.
Agar manfaat multimedia dapat dinikmati, presentasi dengan multimedia harus disiapkan dengan baik. Dalam menyiapkan presentasi dengan multimedia, langkah-langkah yang dapat ditempuh seperti dibawah ini.
1.      Tentukan butir-butir terpenting yang dibahas.
2.      Atur butir-butir tersebut agar alur penyajian runtut dan runut.
3.      Kerangka pikir perlu diungkapkan dan perlu disajikan dalam diagram atau bagan alir untuk menunjukkan alur penalarannya.
4.      Tuliskan semuanya dalam bingkai powerpoint dengan ukuran huruf/gambar yang memadai.
5.      Pilih rancangan slide yang sesuai.
6.      Cobalah tayangkan untuk memastikan bahwa semua bahan yang disajikan dalam slide dapat terbaca oleh peserta dalam ruangan yang tersedia.
7.      Cetak bahan untuk dipakai sebagai pegangan dalam penyajian.



MELAKSANAKAN PRESENTASI ILMIAH
Presentasi ilmiah pada intinya adalah mengomunikasikan bahan ilmiah kepada peserta forum ilmiah. Maka dari itu, berlaku prinsip-prinsip komunikasi. Beberapa prinsip berikut dapat dipertimbangkan.
1.      Mengurangi ganguan komunikasi secara antisipatif.
a.        Memastikan kecukupan pencahayaan dan ruang gerak.
b.       Memperhatikan tingkat kapasitas peserta ketika memilih bahasa dan media.
c.        Menghindari kemungkinan multitafsir ungkapan yang dipilih.
d.      Berpikir positif tentang peserta.
e.       Bersikap terbuka terhadap perbedaan sikap dan pendapat orang lain.
f.       Memastikan bahwa pakaian yang akan dipakai tepat pilihan dari segi situasi formal dan budaya setempat.

2.      Memaksimalkan keefektifan dalam proses presentasi.
a.    Memastikan bahwa suaranya dapat didengar oleh semua peserta
b.    Memastikan bahwa penyaji dapat melihat semua peserta.
c.    Memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya.
d.    Menjadi penyimak/pendengar yang baik jika ada peserta yang bertanya
e.    Mendorong peserta untuk aktif terlibat.
f.    Merespon pada kebutuhan peserta
g.   Menggunakan media yang menarik dan tepat guna.
Hal-hal yang perlu dihindari dalam dalam presentasi
1.      Menerima Telpon (HP) pada saat presentasi. Disarankan  mematikan HP atau menggunakan mode meeting
2.      Memperhatikan slide presentasi di dinding  projector sehingga anda membelakangi peserta.
3.      Berbicara seperti orang mengguman.



REFERENSI:
Anwar, Ahyar. 2011. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia.    Makassar: Badan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar.



Selasa, 10 April 2012

DWI MELDYA L_1111040184


                                                                    BBM !!!
Kenaikan BBM sepertinya sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat besar pada umumnya. Rencana kenaikan BBM yang akan direalisasikan pada 1 April 2012 mendatang, memicu kontra versi dari Masyarakat Indoensia.penyebab utama dari kenaikan BBM ini dikabarkan dengan berbagai dalih sikap optimis dan pesimis selalu harus di tempatkan pada tempatnya. Karena, bila kita mencari penyebab utama dari masalah kenaikan BBM ini, orang-orang yang berwenang di negara ini mulai berdalih. Dan tidak menutup kemungkinan harga-harga sembako-pun ikut melejit naik,saat republika.co.id mewawancarai sejumlah masyrakat terkait kisru kenaikan BBM tersebut. Selain itu, pengaruh kenaikan  harga BBM akan sangat terasa untuk para buruh nasional. "Kenaikan BBM akan sangat dirasakan oleh kalangan buruh nasional kita, perjuangan mereka kemarin untuk menaikkan upah minimumnya terasa sia-sia," ujar anggota komisi IX DPR RI Herlini Amran, di Jakarta, Jumat (23/3/2012). Legislator Partai Keadilan Sejahtera ini melanjutkan, daya beli buruh yang diharapkan naik pasca kenaikan UMK kemarin, seperti tercabik-cabik akibat kenaikan harga BBM. Apalagi, 46 Komponen KHL dalam Permenaker 17/2005 sudah otomatis akan naik nominal harganya. Konspirasi yang digunakan bertujuan untuk saling melempar kesalahan dan saling menuding. Mata mereka buta dan tidak sanggup melihat bahwa kenaikan harga BBM ini adalah konsekuensi dari kekacaun sistem di negara ini dalam berbagai bidang. Mereka sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi saja, kepentingan partai atau kepentingan golongan. Lupa membenahi sistem yang dipercayakan kepada mereka sehingga bila diibaratkan “pemerintahan ini” sebagai sebuah komputer, sistemnya sudah disusupi oleh banyak program illegal dan itu membuat kinerjanya tidak baik lagi.
Silih berganti orang yang berwenang di negara ini. Tapi ada kecenderungan mereka hanya melanjutkan dan melanjutkan ketidakjujuran yang sebelumnya telah ada. Saya salut, mereka hanya mampu mengubah penampilan dari ketidakjujuran ini dengan motif yang menarik sehingga rakyat tidak sanggup melihat kebobrokan sistem ini. Akibatnya, ya Harga BBM naik, korupsi, pelanggaran hukum semakin meningkat, perhatian terhadap pendidikan terabaikan, yang miskin semakin melarat, dan banyak lagi. Bila kita sibuk membicarakan akibat dari kekacauan sistem ini, mereka yang berwenang menentukan kebijakan di negara ini merasa senang. Kebobrokan mereka dalam menjalankan tugas tidak diungkit sama sekali.
Anggota DPR asal Kepulauan Riau ini meminta Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (kemenakertras) dalam wawancara republika.co.id mengatatakan "Jelang kenaikan BBM ini saja, harga obat generik ditetapkan naik 6 sampai 9 persen oleh Kemenkes, salah satu alasannya adalah akibat kenaikan harga BBM," ujarnya. Selain itu, beliau menghimbau Apindo agar tidak melakukan hal-hal tersebut kepada karyawannya, akibat dampak kenaikan harga BBM yang berdampak pada sektor Industri. Herlini meminta pemerintah sebaiknya mengkaji ulang dampak dari kenaikan harga BBM yang nyata-nyatanya berdampak luas pada masyarakat kelas menengah kebawah seperti kalangan buruh ini. Seandainya pemerintah kreatif dalam menjalankan program kerjanya dan tidak selalu mencari solusi paling mudah, masih ada sulusi lain yang bisa digunakan untuk mengatasi kenaikan harga minyak dunia selain harga BBM. Seperti melakukan penghematan anggaran dengan tidak membelanjakan uang Negara dengan hal-hal yang tidak penting, dan memaksimalkan pendapatan pajak.
REPUBLIKA.CO.ID, Baru satu bulan gelombang tinggi dan cuaca buruk di lautan sekitar Indramayu menghilang dan para nelayan kembali melaut.  Melimpahnya hasil tangkapan, diharapkan mampu menebus masa paceklik sepanjang musim baratan. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Gempuran ikan impor yang bahkan menguasai pasar tradisional di sentra kelautan, membuat harga hasil tangkapan nelayan jatuh. Keuntungan nelayan pun sangat minim.
Baru usai balada ikan impor, kini datang lagi 'badai' yang lain. Yaitu naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). "Pemerintah sangat tidak peduli dengan nasib nelayan," keluh nelayan tradisional Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Waskudi (38 tahun). Imbas kenaikan harga BBM diperkirakan bakal menghantam 90 persen dari sekurangnya 120 ribu nelayan Jawa Barat. "Di Jabar mayoritas nelayan kecil," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat, Ahmad Hadadi. Bagi mereka, bila ongkos melaut melebihi harga jual tang kapan, maka pilihannya adalah tidak mengangkat sauh. Mayoritas nelayan di Jawa Barat rata-rata mengandalkan kapal kecil, yang melaut sejauhjauhnya empat mil.
Harapannya, angka pengangguran pun tak benar-benar meledak setelah harga BBM naik. Setidaknya, kata Hadadi, setiap hektare tambak butuh te naga kerja dua sampai tiga orang.
Menkes Endang Rahayu, saat diwawancarai oleh tim Okezone, akhirnya menetapkan kenaikan harga obat sebesar 6–9 persen. Kenaikan ini diputuskan terkait rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, kenaikan harga obat ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi tim evaluasi harga obat. Tahun 2012 ini, paparnya, harga eceran tertinggi (HET) obat generik ditetapkan sejak 23 Februari 2012.

“Penentuan HET ini sudah melalui bermacam-macam pertimbangan. Di antaranya kemungkinan pembatasan BBM bersubsidi, kenaikan bahan baku obat, kenaikan upah minimum regional (UMR), dan sebagainya,” ungkap Endang di Jakarta kemarin.

Dari 170 jenis obat yang HET-nya naik, 28 item di antaranya adalah sediaan injeksi dengan rata-rata kenaikan per item sebesar Rp343.

“Di samping itu, sebanyak 123 jenis tablet dan kapsul naik rata-rata Rp31. Lalu sebanyak delapan item sirup juga rata-rata naik sebesar Rp30, dan tiga macam salep dengan rata-rata kenaikan Rp221. Dengan demikian, kenaikan harga obat tersebut berkisar 6–9 persen,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, HET obat sebenarnya ditetapkan setiap tahun. Ada beberapa obat yang sudah berproduksi saat ini masih memakai harga lama. Meski demikian, menurut dia, untuk pijakan tahun depan, akan mempertimbangkan kembali hal itu. Biasanya, ujarnya, yang akan mengusulkan penyesuaian harga obat adalah farmasi.

“Karena pada umumnya produsen tidak memproduksi satu macam saja, maka bisa subsidi silang. Contohnya, ada harga obat yang sekarang naik tapi sebenarnya jenis tersebut belum naik dalam 2–3 tahun. Jadi, produsen bisa mengaturnya di situ,” tuturnya.

Endang menyatakan, Kemenkes telah memberikan HET dari setiap obat generik. Ini dilakukan untuk mengontrol agar tidak ada kecurangan di lapangan ketika pemerintah menetapkan HET. Permasalahannya, ujar Endang, ada obat-obat di luar jenis obat generik yakni obat-obat bermerek yang hingga saat ini masih sukar diatur.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjamin, perusahaan produsen obat milik BUMN tidak akan menaikkan harga obat. Justru pihaknya memberi instruksi khusus kepada perusahaan obat BUMN untuk memproduksi obat yang terjangkau. Dahlan mengungkapkan, tidak serta-merta kenaikan BBM itu bisa mempengaruhi harga obat.

“Tidak harus begitu.Sepanjang produsen obat itu milik BUMN, kita minta untuk tidak menaikkan dulu sampai kemampuan masyarakat menjadi seimbang lagi,” ungkap Dahlan kepada SINDO.

Dwi Meldya Lestari
1111040184
ICP Math B

Senin, 02 April 2012

MENULIS AKADEMIK
A.    Pengantar
Menulis akademik merupakan materi yang penting untuk diketahui oleh mahasiswa karena digunakan dalam proses pembelajaran mahasiswa untuk mengembangkan kepribadian agar menjadi insan yang terpelajar, sehingga diperlukan kemampuan menulis akademik yang baik.
Menulis adalah kegiatan menyusun serta merangkaikan kalimat sedemikian rupa agar pesan, informasi, serta maksud yang terkandung dalam pikiran, gagasan dan pendapat penulis dapat disampaikan dengan baik. Sehingga sangat diperlukan untuk mempelajadi teori menulis dan memraktikkannya. Frekuensi dan kontinutas latihan menulis akan menjadikan seorang terampil dalam bidang tulis menulis.
Ada tiga proses menulis yang ditawarkan oleh David Nunan yaitu:
1.      Tahap prepenulisan
2.      Tahap penulisan
3.      Tahap revisi atau penyempurnaan
Untuk menerapkan ketiga tahap tersebut, dalam pendidikan bahasa khususnya keterampilan menulis diperlukan keterpaduan antara proses dan produk menulis. Hal ini amat bergantung pada minat pembelajaran dalam menulis, kerjasama antar pembelajar, kesempatan ataupun penetapan model pengajaran dan pembelajaran menulis.

Menulis sebagai proses kreatif
Menulis merupakan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berfikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Tulisan yang dibuat sebaiknya dapat menarik perhatian pembaca sehingga diperlukan kretifitas dalam menulis. Sebagai proses kreatif yang berlangsung secara kognitif, penulisan karya ilmiah dan penyusunan laporan tulisan ilmiah sekurang-kurangnya memuat empat tahap penulisan yaitu: (1) tahap persiapan/prapenulisan, (2) tahap inkubasi, (3) tahap iluminasi, (4) tahap verifikasi/evaluasi. Keempat proses kreatif ini kadang-kadang tidak disadari oleh setiap orang yang mengalaminya. Namun jika dilacak lebih jauh lagi hampir semua proses menulis melalui tahap ini.
2.      Langkah-langkah menulis akademik
Langkah-langkah menulis yaitu sebagai berikut:
a.       Merencanakan
Dalam proses perencanaan penulisan, penulis perlu memerhatikan kegiatan-kegiatan berikut ini :
1.      Mengumpulkan bahan
Hampir semua penulis mengumpulkan segala sesuatu yang mereka perlukan berupa data, informasi, bacaan sebelum memulai menulis. Taha[ inilah yang disebut tahap pengumpulan bahan untuk menulis.
2.      Menentukan tujuan dan bentuk
Dalam penulisan ilmiah, tujuan dan bentuk yang dipilih sering ditentukan oleh situasi. Misalnya, dalam membuat laporan penelitian, format dan tujuan laporan mungkin sudah ditentukan oleh sponsor atau pemberi dana penelitian. Segala usaha lain untuk memperluas tujuan yang telah ditentukan itu pada umumnya cukup bermanfaat.
3.      Menentukan pembaca
Pembaca yang berbeda akan memerlukan bacaan yang berbeda pula. Oleh karena itu, penulis perlu mengetahui keadaan pembaca sebaik-baiknya. Apakah pembaca tulisan kita nanti itumemiliki pengetahuan cukup banyak atau sedikit tentang bidang yang kita tulis dan apa yang diharapkan/diinginkan pembaca dari informasi yang disampaikan oleh penulis. Penulis perlu mengetahui apa yang diinginkan, diperlukan, atau yang diharapkan oleh pembaca.
b.      Menulis
Penulis yang sudah profesional, biasanya situasi yang memaksa mereka untuk menulis sebelum benar-benar siap. Penulis yang belum berpengalaman sering kurang tepat dalam memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mengembangkan ide menjadi kata-kata. Dalam penulian ilmiah karena kompleksnya isi dan adanya batas waktu yang sudah pasti, lebih baik menulis seawal mungkin, mempersiapkan bahan sebagai bahan dasar penulisan serta menyusun draf untuk mencapai hasil akhir.
c.       Merefleksikan
Merefleksikan apa yang sudah ditulis memungkinkan penulis memperoleh perspektif yang segar tentang kata-kata yang pada mulanya tampak sangat betul tapi kemudian terasa salah. Penulis perlu bertnya kepada diri sendiri tentang kesempurnaan tulisannya.
d.      Merevisi
Merevisi merupakan langkah yang sangat penting dalam mencapai tulisan yang baik. Revisi, perbaikan dan penyempurnaan tulisan yang dilaksanakan secara berhati-hati dan seksama dapat menghasilkan tulisan yang jelas, terarah, terfokus sesuai keinginan penulis dan pembaca. Penulis perlu mengetahui masalah yang ada pada tulisannya dan memperbaikinya. Penulis perlu meneliti secara cermat apakah bukti-bukti yang disampaikan mendukung pernyataan yang diutarakan, dan seberapa banyak waktu yang harus digunakan  oleh pembaca untuk memahaminya. Yang paling penting adalah upayakan jangan sampai para pembaca tidak dapat memahami atau salah menginterpretasi serta menafsirkan tulisan karena tidak jelas arah, fokus, dan tujuannya.

B.     Menulis makalah
Mahasiswa hendaknya memiliki kemampuan untuk menulis dan mempresentasikan makalah. Hal ini berkaitan erat dengan pemaparan kinerja akademik seorang mahasiswa yang berkaitan dengan keahliannya. Berikut ini disajikan pengertian makalah, sistematika makalah, dan menulis makalah.
1.      Pengertian makalah
Makalah sering disebut paper (kertas kerja) adalah karya tulis yang memerlukan studi baik secara langsung, misalnya melalui observasi lapangan ataupun secara tidak langsung (studi kepustakaan) (Parera, 1982:25). Makalah ilmiah dapat dibaca dan dibahas dalam pertemuan ilmiah (lokakarya, seminar, simposium, konferensi, konvensi, diskusi akademik dan kegiatan ilmiah yang lain). Makalah ditulis untuk berbagai fungsi diantaranya untuk memenuhi tugas yang dipersyaratkan dalam mta kuliah tertentu, berfungsi menjelaskan suatu kebijakan, dan berfungsi menginformasikan suatu temuan.
2.      Jenis makalah
Makalah terbagi dua jenis yaitu makalah biasa (common paper) dan makalah posisi (position paper) (UPI 2005:7)
Makalah biasa dibuat mahasiswa untuk menunjukkan pemahamannya terhadap permasalahan yang dibahas. Mahasiswa mengemukakan beberapa pandangan atau aliran tentang masalah yang dikaji, mengutarakan saran maupun kritik terhadap pendapat orang lain dan mahasiswa tidak perlu memihak salah satu aliran serta berargumentasi memepertahankan pendapat yang diikutinya. Makalah biasa juga ditulis untuk mendeskripsikan suatu kebijakan, gagasan atau temuan kepada khalayak.
Makalah posisi dibuat mahasiswa untuk menunjukkan posisi teoritisnya dalam suatu kebijakan. Mahasiswa dituntut untuk menunjukkan berbagai teori dan memilih pihak mana dia berdiri beserta alasan-alasannya yang didukung oleh data yang relevan.
Pada umumnya makalah biasa diwajibkan pada mahasiswa S1 sedangkan makalah posisi diwajibkan kepada mahasiswa pascasarjana.
3.      Sistematika makalah
Makalah ilmiah yang sering disusun oleh mahasiswa disebut dengan istilah term paper, biasanya disingkat paper. Paper ini merupakan jenis tugas tertulis dalam suatu permasalahan yang sedang aktual dalam masyarakat. Makalah biasanaya disusun dengan sistematika sebagai berikut:
a.       Judul karangan
Judul dipandang sebagai tanda pengenal karangan sekaligus sebagai kunci utama untuk mengetahui isi karangan. Oleh karena itu, judul harus mencerminkan seluruh isi karangan dan dapat menunjukkan fokus serta permasalahan pokok karangan. Judul harus disusun secara singkat yakni dalam bentuk ungkapan yang singkat dan padat. Jika tidak dapat dihindari judul yang panjang, Keraf (1984:129) menyarankan untuk membuat judul utama yang singkat kemudian diberi judul tambahan yang panjang. Judul yang terlalu panjang juga dapat dipecah menjadi judul  utama dan anak judul. 
b.      Abstrak
Abstrak atau ringkasan biasanya berisi intisari keseluruhan tulisan, ditulis secara naratif, dan diketik satu spasi serta paling banyak tiga paragraf atau sekitar 150-200 kata. Abstrak memuat latar belakang masalah, tujuan, kesimpulan dan saran yang ditulis secara padat.
c.       Pendahuluan
Bagian pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah yang disusun dalam alur pikir yang logis, yang menunjukkan kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan (das sollen dan das sein).
d.      Pembahasan
Bagian ini merupakan inti makalah. Pada bagian ini hendaknya dikemukakan deskripsi tentang subjek studi, analisis permasalahan, dan solusi pemecahannya. Pada bagian ini aspek-aspek yang dipersoalkan pada bagian pendahuluan dikaji dan dianalisis satu demi satu, sehingga masalah yang dipersoalkan itu menjadi jelas kedudukannya dan pemecahannya. Untuk memperkuat daya analisis, penulis hendaknya digunakan teori, data atau pandangan ahli.
e.       Kesimpulan
Secara umum kesimpulan berisi hasil dari seluruh pembahasan dan setidak-tidaknya berisi jawaban atas semua permasalahan yang dikemukakan dalam pendahuluan.
f.       Daftar pustaka
Bagian ini memuat pustaka atau rujukan yang diacu dalam makalah. Rujukan ini disusun ke bawah menurut abjad nama akhir penulis pertama. Buku dan makalah tidak dibedakan, kecuali penyusunannya dari kiri ke kanan. Untuk buku, teknik penulisan daftar pustaka sebagai berikut: nama penulis, tahun terbit, judul buku, jilid (jika ada), terbitan ke-, nama kota dan nama penerbit.
Contoh:
A.R., Syamsuddin dan Damaianti, Vismaia. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Cetakan Pertama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.






Referensi:
Badan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FBS UNM. 2011. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Bahasa Indonesia. Makassar: Badan Penerbit UNM.







Oleh :
Nursyam Anaguna
1111040194
Matematika ICP B 2011